Ket [Foto]:
Tak Sekadar Film Horor, "Rajah" Sekaligus Jadi Benteng Budaya Nusantara
Temanggung, MediaCenter - Film bergenre horor biasanya menonjolkan kengerian melalui audio visual, lighting, dan karakter kuat dari make up artis, di mana secara umum, film bisa menjadi pula alat propaganda yang luar biasa tergantung pembuatnya. Tak mau terjebak hanya mengejar komersial semata, suami istri penggiat film, R Jiwo Kusumo dan Ditha Samantha mengedepankan visi, misi kuat menjaga tradisi budaya nusantara, serta norma dalam penggarapan film terbarunya.
Hal itu kemudian menjadi gagasan dan dituangkan dalam sebuah karya film bergenre horor dengan judul "Rajah" produksi Eight Sense Film Presents, di mana ada seni tradisi yang disampaikan sebagai pesan kepada masyarakat. Film ini juga berlatar belakang sejarah dari serat Ronggo Warsito "Amenangi Jaman Edan". Pada serat tersebut, kata Jiwo, ada petuah yang sangat bagus, yakni "Sak beja-bejane wong kang lali, luwih beja wong kang eling lan waspada".
R Jiwo Kusumo selaku sutradara, sebelumnya merasa prihatin saat mencoba melakukan eksplorasi seni tradisi leluhur kepada Gen Z, sebab ada degradasi. Padahal film merupakan wajah dari sebuah peradaban, dan bangsa yang menghargai sejarahnya itulah yang memegang peradaban, di mana kitab-kitab kuno bisa menjadi literasi kuat. Maka, sebagai anak bangsa seharusnya jangan mau dieksploitasi, tapi tampil sebagai pelaku utama.
"Ada yang takut mendengar suara gamelan, padahal ini tradisi budaya leluhur yang luar biasa. Maka, kami memiliki visi memperkenalkan budaya tradisi pada pasar kita Gen Z, dengan menempatkan budaya luhur kita pada posisi semestinya. Kami bikin film horor tidak pernah mengekspos tempatnya di mana, misal kita sebut di kabupaten A nah kabupaten itu nanti akan disebut kabupaten horor, kami menjaga privasi," ujarnya.
"Rajah" memiliki kelebihan pada keberanian sang perancang film memadukan horor dengan kekayaan seni budaya Jawa, seperti penampilan tari klasik, tembang macapat, suluk, dan tentunya bebunyian ritmis gamelan. Mereka ingin menegaskan, bahwa sebenarnya seni budaya atau tradisi leluhur itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai sumber nilai kebaikan, bahkan menjadi kekuatan spiritual.
Alur cerita Rajah dimulai dari sosok Nilam perempuan Gen Z yang kerap mengalami mimpi penuh teror, dan merupakan isyarat dari masa lampau agar tak terjerumus pada Zaman Edan. Penguatan sejarah ada pada tokoh Cakra seorang mahasiswa sejarah yang meyakini, bahwa masa lalu tidak benar-benar mati, di mana peristiwa kini merupakan pengulangan masa lampau. Cerita makin klop, karena Cakra dan Nilam bertemu Tribuana seorang pelatih tari yang punya kemampuan melihat masa lalu dan masa depan.
Executive Producer film Rajah, Dhita Samantha menyebut, pada film besutannya yang akan tayang perdana di tanggal cantik nan unik 26.02.2026 ini, memang menyelipkan seni budaya dari leluhur nusantara. Akar tradisi itu kemudian dikemas dalam bentuk film horor, di mana sebelumnya, dia juga telah melakukan berbagai riset terlebih dahulu.
"Film Rajah yang kami produksi ini menyuburkan seni budaya leluhur nusantara yang memiliki energi poisitif luar biasa dan dikemas dalam film bergenre horor. Pengemasan berawal dari keresahan terkait pola pikir generesi bangsa saat ini yang sudah sangat jauh dari akar budaya, bahkan takut akan seni tradisi budayanya sendiri," tandasnya.
Produsen film Rajah berharap, dengan film ini, generasi bangsa bisa kembali mencintai seni tradisi budaya leluhur, tanpa mengeksploitasi. Saat ini, ada pola pikir kurang tepat, seperti melihat gamelan takut ada hantunya, mau pakai batik malu. Maka, film Rajah disebut menjadi antithesis atau klimaks dari keresahan yang ada selama ini, serta refleksi, bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Rajah sendiri memiliki durasi 105 menit dengan kronik cerita berlapis yang dirancang untuk mengikat penonton sejak awal hingga selesai. Di mana ada suguhan teror misterius yang tak sekadar menonjolkan supranatural, namun ada intrik, serta konspirasi yang akan membawa adrenalin pemirsanya. Adapun aktris dalam Film "Rajah" antara lain Samuel Rizal (Malawangsa), Panji Zoni (Cakra), Aditya Zoni (Birsha), Angel Lisandi (Nilam), Dhita Samantha (Tribuana).
"Harapannya, bisa dinikmati seluruh kalangan masyarakat, film horor yang memiliki nilai-nilai tuntunan, edukasi, dapat dipakai sebagai acuan atau pedoman untuk generasi bangsa ini. Mulai saat ini mereka sudah bisa bangkit, bangga dengan tradisi bangsanya, dan saya akan lakukan," pungkasnya.(ary;ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook