Ket [Foto]: Trans Jateng
Pemkab Dukung Rencana Trans Jateng Beroperasi di Temanggung
Temanggung, Media Center - Pemerintah Kabupaten Temanggung mendukung rencana pengoperasian layanan transportasi massal Trans Jateng yang akan melintasi di wilayah setempat pada 2027 mendatang.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Temanggung, Saltiyono Atmadji mengatakan, pengoperasian layanan Trans Jateng saat ini masih tahap sosialisasi ke sektor pengusaha trayek. Rute yang direncanakan akan menghubungkan Temanggung-Magelang–Borobudur.
Bahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan survei awal terkait jalur dan titik pemberhentian di wilayah Temanggung guna memudahkan masyarakat dalam menggunakan moda transportasi darat.
“Di Temanggung sudah dilakukan survei, apakah nanti armada sampai Parakan atau cukup sampai kawasan Madureso atau Terminal Temanggung. Ini masih tahap awal dan belum ada keputusan final,” kata Saltiyono, Senin (19/1/2026) di Temanggung.
Selain jalur utama, operasional Trans Jateng juga akan melibatkan sistem angkutan pengumpan (feeder) dari berbagai arah, seperti jalur Wonosobo–Temanggung dan Sukorejo–Temanggung.
"Hal tersebut dinilai penting untuk nantinya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas," lanjutnya.
Menurut Saltiyono, hingga saat ini sosialisasi resmi masih dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan belum menyentuh masyarakat secara langsung. Namun secara informal, provinsi telah mulai berdiskusi dengan para pengusaha transportasi dan pelaku usaha lokal terkait persiapan operasional.
“Kami siap memfasilitasi, mulai dari penyediaan lokasi halte, pengaturan titik pemberhentian yang aman, sampai koordinasi pembangunan sarana prasarana pendukung,” ujarnya.
Saltiyono menilai, kehadiran Trans Jateng menjadi solusi atas kondisi armada angkutan umum di Temanggung yang sebagian besar sudah berusia tua. Bahkan, sejumlah armada kurang memenuhi standar kenyamanan transportasi massal modern.
“Dengan armada baru, ber-AC, bersih, jadwal pasti, dan tarif terjangkau, masyarakat akan lebih tertarik menggunakan angkutan umum. Ini sudah terbukti di daerah lain seperti Kendal,” tandasnya.
Terkait kekhawatiran sopir angkutan umum konvensional, Saltiyono menegaskan, sistem Trans Jateng justru membuka peluang kolaborasi. Para sopir dan pengusaha angkutan tetap dapat terlibat dalam operasional, baik sebagai pengemudi, pengelola, maupun bagian dari sistem pendukung.
“Tidak dimatikan, justru dirangkul. Supir tetap bisa bekerja, bahkan tanpa harus kejar setoran. Sistemnya lebih tertib dan manusiawi,” tandasnya. (Fir;Rjl;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook