Ziarah Sunyi di Parakan, Ma’ruf Amin Tundukkan Kepala di Makam Kyai Subchi
Ket [Foto]:

Ziarah Sunyi di Parakan, Ma’ruf Amin Tundukkan Kepala di Makam Kyai Subchi

Temanggung, MediaCenter – Langit Parakan pagi itu tampak teduh, seolah ikut menyambut langkah seorang tokoh bangsa yang datang dengan penuh kerendahan hati. Kamis (29/1/2026), Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, melangkah perlahan memasuki area Pemakaman Sekuncen, Kauman, Parakan, Temanggung, untuk berziarah ke makam ulama kharismatik Kyai Subchi.

Sekitar pukul 09.30 WIB, Ma’ruf Amin tiba bersama sang istri, Wury Estu Handayani. Tak ada gegap gempita. Yang terasa justru keheningan, doa, dan tatapan harap warga yang berjejer di sepanjang gang sempit menuju makam. Sekitar seratus meter jalan kecil dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kedatangan sosok ulama, sekaligus negarawan tersebut.

Di hadapan pusara Kyai Subchi—ulama yang dikenal sebagai Kyai Bambu Runcing—Ma’ruf Amin menundukkan kepala cukup lama. Tangannya menabur bunga, disertai doa yang lirih. Suasana menjadi khidmat ketika tahlil dipimpin cucu Kyai Subchi, KH. Yacub Mubarok, yang juga Ketua MUI Kabupaten Temanggung.

Tokoh agama Temanggung, KH. Adhlin Basri membacakan kisah perjuangan Kyai Subchi di hadapan KH. Ma'ruf Amin. Tentang seorang ulama desa yang tak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangkitkan keberanian rakyat untuk melawan penjajahan. Cerita itu membuat banyak warga terdiam, seolah kembali menyusuri lorong sejarah perjuangan Parakan.

Usai ziarah, Ma’ruf Amin menyampaikan rasa hormatnya kepada sosok Kyai Subchi. Baginya, ulama-ulama seperti beliau adalah pilar berdirinya republik, meski tak pernah meminta balasan apa pun.

“Mereka tidak pernah meminta disebut pahlawan. Mereka berjuang dengan ikhlas. Tapi justru kita yang seharusnya tahu diri untuk menghargai jasa mereka,” ucap Ma’ruf Amin dengan nada tenang.

Menurutnya, Kyai Subchi sangat layak mendapatkan penghormatan sebagai Pahlawan Nasional. Bukan semata, karena perannya dalam sejarah, tetapi karena keteladanan hidup yang diwariskan hingga kini.

Ziarah itu, kata Ma’ruf Amin, bukan sekadar ritual mengenang masa lalu. Lebih dari itu, menjadi pengingat, bahwa perjuangan tak pernah selesai.

“InsyaAllah beliau termasuk para mujahid fi sabilillah. Kita tidak boleh berhenti berjuang, dalam keadaan apa pun, untuk agama, bangsa, dan negara,” tuturnya.

Bagi warga Parakan, kehadiran Ma’ruf Amin menjadi momen yang membekas. KH. Yacub Mubarok menyebut kunjungan tersebut sebagai anugerah, sekaligus penguat harapan masyarakat.

“Kami meyakini, Parakan adalah bagian penting sejarah bangsa. Semoga Mbah Subchi segera dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Pagi itu, Parakan tak hanya menjadi tempat ziarah. Ia berubah menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini—antara doa, sejarah, dan harapan yang terus hidup di hati masyarakat Temanggung. (Aiz;Ekp)

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook