Ket [Foto]:
Nyadran Srobong Gobang: Doa dan Harapan Petani Tlilir di Lereng Sumbing
Temanggung, MediaCenter – Udara sejuk lereng Gunung Sumbing menyelimuti makam Kiai Tlilir, Jumat (30/1/2026).
Di sana, ribuan warga Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo berkumpul, bukan sekadar menjalankan tradisi, tetapi merajut doa dan harapan dalam ritual tahunan Nyadran Srobong Gobang.
Bagi masyarakat desa, nyadran bukan hanya acara adat. Ia adalah ruang kebersamaan, tempat setiap langkah kaki menuju makam menjadi simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.
“Nyadran ini momentum membersihkan diri, lahir dan batin. Kami percaya, doa bersama akan menguatkan kami menghadapi kehidupan sehari-hari,” tutur Kepala Desa Tlilir, Faturokhman, dengan mata berbinar.
Sejak pagi, warga berbondong-bondong berkumpul di kantor desa. Mereka berjalan bersama mengelilingi dusun, lalu menuju makam. Anak-anak berlarian riang, sementara orang tua melangkah penuh khidmat.
Di sepanjang jalan, senyum dan sapa hangat menjadi pengingat, bahwa kebersamaan masih terjaga kuat, meski zaman terus berubah.
Sesampainya di makam, doa dan tahlil dilantunkan. Suara doa itu berpadu dengan semilir angin pegunungan, menciptakan suasana yang membuat banyak warga menundukkan kepala lebih lama, seolah ingin meresapi setiap kata.
Usai doa, tiga gunungan hasil bumi diarak keluar dari area makam. Seketika, warga berebut mengambilnya.
Bagi mereka, hasil panen yang telah didoakan bukan sekadar sayur atau buah, melainkan simbol keberkahan hidup.
“Kalau dapat bagian dari gunungan, rasanya seperti membawa pulang doa untuk keluarga,” ujar Siti (53), seorang ibu petani yang ikut berebut dengan senyum bahagia.
Ritual dilanjutkan dengan jamasan gobang, alat perajang tembakau yang dicuci dengan air kembang. Bagi petani, gobang bukan sekadar alat kerja, melainkan sahabat setia di ladang.
Membersihkannya adalah simbol ikhtiar: menyingkirkan rasa lelah, cemas, dan segala beban sebelum musim tanam tiba.
“Gobang ini sudah menemani saya puluhan tahun. Saat dijamas, rasanya seperti ikut dibersihkan juga hati saya,” ungkap Mbah Karyo (71), petani sepuh yang matanya berkaca-kaca.
Di balik setiap doa, tersimpan harapan besar: agar tembakau tahun ini lebih berpihak pada petani.
Nyadran Srobong Gobang menjadi pengingat, bahwa panen bukan hanya soal hasil, melainkan tentang keyakinan, doa, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di lereng Sumbing, tradisi ini terus hidup. Ia bukan sekadar ritual, melainkan kisah manusia tentang harapan sederhana: agar kerja keras di ladang berbuah manis, dan doa yang dipanjatkan membawa kedamaian bagi seluruh warga desa. (Aiz;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook