Ket [Foto]:
Serahkan Bibit Pohon di Nyadran Perdamaian, Agus Gondrong Tekankan Pentingnya Jaga Alam dan Harmoni Nusantara
Temanggung, MediaCenter - Bupati Agus Setyawan menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada peraih Kalpataru 2024, Mbah Sukoyo, dalam rangkaian ritual Nyadran Perdamaian di Pemakaman Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Jumat (16/1/2026).
Penyerahan bibit ini menjadi simbol komitmen pemerintah dan warga dalam menjaga kelestarian alam melalui gerakan "Nyadran Lestari".
?Dalam kesempatan itu, Agus Setyawan membaur dan duduk lesehan (nglemprak_red) bersama warga lintas agama. Ia menegaskan, bahwa kekuatan sejati bangsa Indonesia tercermin dari keberanian merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
"Ini Indonesia banget, Nusantara banget. Kebersamaan dalam perbedaan seperti inilah cerminan jati diri bangsa kita yang sesungguhnya. Sing dipilih jadi bupati ya nglemprak, semuanya di sini nglemprak tanpa melihat latar belakang demi kedamaian dan kelestarian alam," ujar Agus Setyawan.
?Mengenai tema Nyadran Perdamaian "Merawat Alam Menjaga Bumi", Agus menekankan, bahwa berdamai dengan alam sama pentingnya dengan menjaga harmoni antar manusia. Penyerahan bibit pohon kepada Mbah Sukoyo bukan tanpa alasan. Pasalnya, sosok Mbah Sukoyo dianggap sebagai inspirasi nyata, bahwa seorang warga desa mampu memberikan dampak ekologis yang diakui secara nasional.
?Pemakaman Gletuk sendiri menjadi potret unik keberagaman di Temanggung. Di sini, warga Dusun Krecek (Buddha) dan warga Dusun Gletuk (Muslim dan Kristen) berkumpul di satu makam leluhur yang sama. Mereka bergotong royong membersihkan nisan dan berdoa menurut keyakinan masing-masing. Tradisi ini berakar dari konsep Sradda, bentuk penghormatan spiritual kepada leluhur yang tetap lestari, meski dianut oleh warga yang berbeda keyakinan.
?Sukoyo atau Mbah Sukoyo mengungkapkan, bahwa Nyadran Perdamaian adalah cara menjaga warisan leluhur yang mencakup sejarah hingga kelestarian alam.
"Tujuannya mengingat leluhur yang mewariskan kekayaan alam agar tetap terjaga untuk anak cucu. Di sini moderasi agama sudah menjadi bagian dari hidup kami sehari-hari," kata Sukoyo.
Ia juga menambahkan, bahwa peran perempuan yang diperkuat oleh lembaga Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia menjadi pilar penting dalam menjaga perdamaian di desa tersebut.
?Acara ditutup dengan kenduri atau makan bersama di area pemakaman. Warga saling berbagi berkat hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas harmoni kehidupan. (Adt;Istw;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook